KEJAYAAN HANYA AKAN TERCAPAI DENGAN BERPIKIR MELANGKAHI SEMUA PEMIKIRAN YANG ADA
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sabtu, 30 Oktober 2010

ISLAM MENGHAPUS PERBUDAKAN DENGAN CARANYA SENDIRI



Banyak musuh-musuh Islam yang menyerang Islam dengan fitnah bahwa Islam menghalalkan perbudakan, Islam adalah sumber perbudakan dan sebagainya, apakah itu benar, mari kita bahas.

Pada dasarnya, syariat Islam yang mengatur mengenai budak dan sistem perbudakan diturunkan ketika budak sudah ada, dan setiap bangsa memiliki system perbudakan masing-masing. Diantara system perbudakan yang ada pada saat itu adalah budak boleh diperjualbelikan bahkan dibunuh oleh tuannya sendiri. Ada pula system perbudakan yang membolehkan tuan memperisteri budak-budaknya dan memperlakukannya seperti binatang. Ada pula aturan yang menyatakan; jika seseorang tidak mampu membayar utang kepada seseorang, maka ia boleh dijadikan budak. Ada pula ketetapan, jika suatu negeri dikalahkan, maka penduduknya absah diperbudak seluruhnya. Berdasarkan fakta inilah, Islam datang dengan seperangkat hukum yang ditujukan untuk memecahkan persoalan perbudakan, serta menggariskan aturan-aturan tertentu (sistem) yang berhubungan dengan budak. Dan apabila kita kaji secara jernih dan mendalam, kita pasti akan berkesimpulan bahwa syariat Islam datang untuk “membebaskan budak dan melenyapkan sistem perbudakan” yang ada di seluruh dunia.

Untuk memahami pandangan dan solusi Islam terhadap budak dan system perbudakan, ada dua hal penting yang perlu dimengerti. Pertama, sikap dan perlakuan Islam terhadap budak faktual (seseorang yang telah dijadikan budak), orang yang derajatnya turun atau tidak sebanding dengan orang-orang merdeka sehingga berhak untuk diperjualbelikan layaknya barang dagangan. Untuk sisi pertama ini, Islam telah menggariskan sejumlah aturan yang ditujukan untuk membebaskan para budak dan orang-orang yang diperlakukan seperti budak; serta menjadikan mereka sebagai orang yang merdeka. Kedua, pandangan Islam mengenai system perbudakan. Dalam hal ini, Islam telah memecahkan persoalan ini dengan cara menetapkan aturan-aturan tertentu yang pada intinya ditujukan untuk menghapuskan sistem perbudakan yang ada di seluruh dunia.

Sikap dan Perlakuan Islam Terhadap Budak
Sesungguhnya, Islam telah datang dengan seperangkat aturan yang ditujukan untuk membebaskan budak baik secara paksa maupun pilihan; dan meringankan budak-budak yang ada pada saat itu dengan perlakuan-perlakuan tertentu. Dalam hal ini para fuqaha’ telah merinci sejumlah hukum yang berhubungan dengan budak, diantaranya adalah:
Pertama, Islam telah menetapkan sejumlah aturan bagi orang Islam yang memiliki budak, sehingga budak memiliki hak sebagaimana tuannya. Selain itu, Islam juga menetapkan sejumlah aturan sehingga fithrah dan sifatnya sebagai manusia (manusia bebas) bisa dijaga dan setara dengan manusia yang bebas. Misalnya, Al-Quran dan hadits memerintahkan kaum Muslim untuk berbuat baik kepada budaknya. Allah swt berfirman, “Berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapa, karib kerabat, anak-anak yatim, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (TQS. an-Nisaa’: 36).

Dalam hadits riwayat Muslim dituturkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Bertaqwalah kalian kepada Allah, dan berhati-hatilah kalian terhadap budak-budak yang kalian miliki. Sesungguhnya, mereka adalah saudaramu yang dijadikan Allah swt berada di bawah kekuasaanmu. Oleh karena itu, berilah mereka makan, seperti yang engkau makan, dan berilah mereka pakaian seperti pakaian yang engkau kenakan; janganlah memberi beban tugas yang memberatkan mereka, dan jika engkau membebani mereka dengan tugas, maka berlakulah baik (tidak memberatkan) kepada mereka.”
Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud, dinyatakan, “Barangsiapa membunuh budaknya, maka kami akan membunuhnya balik.”

Nash-nash di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa Islam telah memerintahkan kaum muslim untuk berbuat baik kepada budaknya, dan menyetarakan kedudukan mereka –secara fithrah dan kemanusiaan– dengan manusia merdeka. Dengan kata lain, Islam telah menyetarakan budak dan orang merdeka dalam hal darah dan kehormatan. Dalam fiqh juga dinyatakan, jika tuan “menikmati budaknya”, maka statusnya dipandang sebagaimana tatkala ia menikmati isterinya yang merdeka.Untuk itu, jika seorang budak hamil atau melahirkan anak dari tuannya, dengan segera ia harus dibebaskan secara paksa setelah kematian tuannya.

Kedua, pada saat itu, Islam telah mendorong manusia untuk membebaskan budak-budak yang mereka miliki. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas bahwa, pembebasan budak akan membantu dirinya untuk bersyukur kepada nikmat Allah swt, dan memudahkan dirinya untuk mendaki jalan yang sukar. “Maka tidakkah sebaiknya sia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu, melepaskan budak dari perbudakan.” (TQS. al-Balad: 11-13)

Rasulullah saw juga mendorong kaum Muslim untuk membebaskan budak.“Siapa saja yang memudahkan urusan seorang muslim, maka Allah akan menghindarkan setiap anggota tubuhnya dari api neraka.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Islam telah mensyariatkan sejumlah hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budaknya, atau dibebaskan oleh penguasa. Jika seseorang memiliki hubungan kekerabatan atau hubungan waris dengan budaknya, maka ia wajib membebaskan budak tersebut, baik rela maupun tidak rela. Jika ia tidak rela, maka penguasa yang akan membebaskan budak tersebut. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Nabi saw bersabda, “Barangsiapa memiliki budak yang memiliki hubungan kekerabatan (keluarga dan waris), maka ia adalah orang bebas.” (HR. Abu Dawud)

Budak yang disiksa oleh tuannya dengan cara dibakar, dipotong salah satu anggota tubuhnya; atau siapa saja yang memukul atau mendera budak dengan deraan yang berlebihan, maka budak itu wajib dibebaskan. Jika tuannya tidak mau membebaskan, maka penguasa berhak memaksanya untuk membebaskan budaknya. Dalam sebuah riwayat disebutkan, ‘Barangsiapa memukul budaknya atau menderanya, maka dendanya adalah membebaskannya.” (HR. Imam Muslim)

Islam juga telah menjadikan pembebasan budak sebagai denda (kifarah) atas dosa-dosa yang dilakukan seorang muslim. Allah telah menjadikan pembebasan budak sebagai kifarah atas pembunuhan tidak sengaja. Allah swt berfirman, “Tidaklah patut seorang mukmin membunuh mukmin yang lain, kecuali karena kesalahan (ketidaksengajaan). Siapa saja yang membunuh seorang mukmin karena kesalahan, hendaklah ia membebaskan budak atau membayar denda yang diserahkan kepada keluarganya..” (TQS. an-Nisaa’: 92)

Pembebasan budak juga ditetapkan sebagai kifarah atas pelanggaran sumpah. Allah swt berfirman, “Maka kifarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kami berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau membebaskan seorang budak.” (TQS. al-Maidah: 89).

Pembebasan budak juga dijadikan kifarat pada kasus dzhihar, dan juga kasus suami yang menyetubuhi isterinya di siang hari bulan Ramadlan.Hukum-hukum di atas telah dikaitkan dengan pembebasan budak. Ini menunjukkan, bahwa Islam telah mendorong umatnya untuk berlaku baik, mendudukkan mereka pada tempat yang setara dengan orang merdeka, baik dalam hal harta dan darah, serta mendorong kaum Muslim untuk membebaskan budak.
Islam tidak mencukupkan diri hanya dengan menetapkan hukum-hukum yang memaksa seseorang untuk membebaskan budak, akan tetapi Islam juga telah menetapkan hukum bagi budak untuk membebaskan dirinya sendiri, sebagaimana Islam telah menetapkan mekanisme bagi tuan untuk membebaskan budaknya. Allah swt berfirman,”Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kelebihan para mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta yang telah dikaruniakan Allah kepadamu.” (TQS. an-Nuur: 33). Ayat ini berbicara tentang budak yang ingin membebaskan dirinya (mukatab).

Keempat, di dalam baitul maal, terdapat pos khusus untuk membantu para budak membebaskan dirinya. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak , orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah swt.” (TQS at-Taubah: 60). Pos untuk pembebasan budak tidak ditentukan besar kecilnya. Seorang khalifah boleh saja memberikan prosentase di atas 50% untuk pembebasan budak.Bahkan ia boleh mengalokasikan semua perolehan zakat untuk pembebasan budak.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan di atas dapatlah disimpulkan bahwa syariat Islam diturunkan untuk membebaskan budak-budak dan menghapuskan perbudakan yang ada pada saat itu, bukan untuk melanggengkan dan mempertahankan eksistensinya.

Islam dan Sistem Perbudakan
Adapun ditinjau dari sisi sistem perbudakan, sesungguhnya Islam telah menghapuskan sistem perbudakan secara permanen hingga hari akhir.Dengan kata lain, Islam telah mengharamkan perbudakan atas orang-orang merdeka dengan pengharaman yang pasti. Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga orang yang akan aku tuntut kelak di hari kiamat. Seorang laki-laki meminta kepadaku, kemudian ia berkhianat, dan seorang laki-laki yang menjual seorang laki-laki merdeka, kemudian ia memakan hasil penjualannya itu, dan seorang laki-laki yang mempekerjakan seseorang dan tidak pernah diberi upahnya.”[HR. Bukhari] Hadits ini menunjukkan bahwa Allah swt melarang memperjualbelikan (memperbudak) orang-orang yang merdeka.

Dalam kondisi perang, Islam juga telah mengharamkan secara mutlakmemperbudak tawanan perang. Pada tahun ke 2 Hijrah, Allah swt telah menjelaskan ketentuan hukum mengenai tawanan perang, yaitu; (1) dilumpuhkan seluruhnya, (2) ditebus dengan sejumlah harta, ditukar dengan tawanan kaum muslim atau kafir dzimmiy. Hukum ini telah melarang memperbudak tawanan perang. Allah swt berfirman;
Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.“ (TQS. Muhammad (47) :4).

Ada sebagian fukaha menyatakan bahwa Rasulullah saw telah memperbudak tawanan perang saat perang Hunain. Padahal, ayat di atas turun pada tahun ke 2 Hijriyyah jauh sebelum peristiwa perang Hunain.Untuk itu, mereka berpendapat bahwa kondisi perang, kaum Muslim masih diperbolehkan memperbudak tawanan perang. Jawaban atas pernyataan ini adalah sebagai berikut. Sesungguhnya, perbuatan dan perkataan Rasulullah hanya berfungsi untuk mentaqyiid, mengkhususkan, atau mentafshilkan (merinci), kemutlakan, keumuman, dan kemujmalan(keglobalan) al-Quran, namun tidak bisa digunakan untuk menghapus al-Quran (nasakh). Ayat di atas sama sekali tidak berbentuk muthlaq sehingga layak untuk ditaqyiid. Ayat di atas lafadznya juga tidak berbentuk umum, sehingga absah untuk ditakhshish. Ayat di atas juga tidak berbentuk mujmal sehingga layak dirinci oleh sunnah. Sedangkan hadits yang menuturkan bahwa Rasulullah saw pernah memperbudak tawanan perang di Hunain, adalah hadits ahad. Khabar ahad tidak boleh menasakh (menghapus) al-Quran yang mutawatir. Oleh karena itu, jika riwayat yang menuturkan perbudakan tawanan perang di perang Hunain memang benar-benar shahih, maka ia harus ditolak matannya, karena bertentangan dengan khabar mutawatir.

Fakta saat perang Hunain menunjukkan bahwa, para wanita dan anak-anak telah terlibat dalam perang, baik untuk memperkuat pasukan atau memberi semangat pasukan. Tatkala pasukan Hunain dikalahkan, wanita dan anak-anak itu dihukumi sebagai sabayaSabaya adalah kaum wanita dan anak-anak yang turut serta dan melibatkan diri dalam kancah peperangan. Menurut orang Arab, istilah sabaya hanya ditujukan untuk kaum perempuan dan anak-anak yang terlibat dalam peperangan, dan tidak mencakup kaum laki-laki. Rasulullah saw membagi-bagikan mereka (sabaya) kepada kaum Muslim yang turut berperang. Sebagian shahabat ada yang mengembalikan sabaya ini kepada keluarganya. Namun demikian, tatkala Rasulullah saw memerangi Khaibar, beliau tidak menawan penduduknya, baik laki-laki, wanita dan anak-anak. Beliau saw membiarkan mereka menjadi orang-orang yang bebas (merdeka). Ini menunjukkan bahwa perlakuan terhadap sabaya tergantung dari khalifah. Khalifah boleh saja memperbudak mereka, atau membebaskan mereka. Namun, hukum semacam ini hanya berlaku kepada sabaya, yakni wanita dan anak-anak yang terlibat dalam perang. Sedangkan laki-laki yang turut perang dan orang-orang yang berada di dalam rumahnya dan tidak ikut berperang, tidak boleh diperbudak sama sekali. Dengan kata lain, tawanan perang (al-usriy) tidak boleh diperbudak, sedangkan sabaya (wanita-wanita dan anak-anak yang turut perang) boleh diperbudak atau dibebaskan. Hanya saja, sabaya tidak boleh ditebus dengan harta. Tindakan semacam ini pernah dilakukan oleh Rasulullah saw pada saat perang Hunain, dan Khaibar. Pada saat perang Hunain, Rasulullah saw memperbudak sabaya, lalu kemudian membebaskan mereka. Sedangkan pada saat perang Khaibar, beliau membebaskan para sabaya, dan tidak memperbudak mereka.

Hanya saja, tindakan khalifah (imam) untuk “memperbudak” sabaya, tidak boleh diartikan bahwa sabaya itu hendak diperbudak secara langsung; atau diartikan bahwa Islam masih mentolerir dan melanggengkan perbudakan. Tetapi, tindakan semacam ini diberlakukan hanya dalam kondisi peperangan, dan berada di bawah koridor hukum darurat perang.Dengan demikian, tindakan khalifah tersebut semata-mata demi kepentingan politik perang (siyasah al-harb); dan bukan ditujukan untuk memperbudak mereka secara langsung.
Dari seluruh keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, Islam telah memecahkan masalah perbudakan, sekaligus juga menetapkan aturan-aturan komprehensif yang bisa mencegah terjadinya perbudakan kembali.Selain itu, Islam juga memberikan kewenangan kepada khalifah untuk memperlakukan sabaya, sesuai dengan politik dan kepentingan perang. Tidak hanya itu saja, Islam juga telah menghapuskan perbudakan ketika Islam melarang melibatkan anak-anak dan wanita dalam medan peperangan, seperti yang diterapkan pada hukum perang modern. Ini semua menunjukkan bahwa Islam melarang dan menghapuskan perbudakan yang terjadi di tengah-tengah manusia untuk selama-lamanya.

Ditulis oleh Syamsuddin Ramadlan An-Nawiy – Lajnah Tsaqafiyyah Hizbut Tahrir Indonesia


PENGUMUMAN. HIZBUT TAHRIR INDONESIA Membuka posko bantuan Merapi dan Mentawai, program recovery mental, bantuan logistik ( makanan ), medis. Jika teman2 ingin membantu, bantuan bisa ditransfer via Bank Syariah Mandiri 0160233681, BNI Syariah 0177325530, atas nama Hizbut Tahrir Indonesia, CP ust Pedy 08174888847 ( Merapi ), Rozy Safery 081363358481 ( Mentawai ), atau kunjungi website kami WWW.HIZBUT-TAHRIR.OR.ID

Kamis, 28 Oktober 2010

TERORIS PRIKITIUW



kaisar Macedonia yang terkenal dan memiliki banyak daerah jajahan, suatu ketika menangkap seorang perompak. Sang Kaisar lalu bertanya, “Kenapa engkau membuat teror di lautan?” Perompak itu balik bertanya, “Kenapa engkau membuat kekacauan di dunia? Hanya karena aku menggunakan sebuah kapal kecil, engkau menyebutku teroris; sedangkan engkau; karena engkau memakai kapal yang besar engkau menyebut dirimu seorang kaisar.”kata seorang perompak laut di Mediterania, saat ditangkap oleh tentara laut, Alexander Agung, kaisar Macedonia.

Jika kita logikakan dengan apa yang terjadi sekarang adalah sama, definisi teroris adalah mereka yang pakai senjata jadul AK 47, main bom, bom karbitan, berjenggot, agamanya Islam, meneriakan Jihad.
Sedangkan mereka yang memakai pesawat tempur, memakai senjata-senjata canggih, bom-bom mutakhir, rudal, tank-tank canggih, membunuh dengan seenaknya, menangkapi orang tanpa pandang bulu, menyiksa, melecehkan, menggunakan perusahaan multinasionalnya untuk menjajah negara-negara miskin, merampok Sumber Daya Alamnya, dan membiarkan rakyatnya mati kelaparan, itu adalah Malaikat.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, dengan asal tuduh Densus cap 16 obat sakit kepala para koruptor sejak 2003 yang terpercaya, wah panjang banget namanya, main asal tangkap, asal tembak, walaupun yang ditangkap, ditembak mati ternyata hanyalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa, bahkan jangankan teroris suruh membunuh semut aja gak tega.

Sebagai contoh Penembakkan terhadap tersangka terorisme juga mengindikasikan satuan antiteror telah melakukan extra judicial killing. Padahal keluarga dan orang dekat lalu membantah bahwa tersangka tidak terkait dengan terorisme. Salah satu korban tewas di tangan Densus 88, yang bernama Yuki Wantoro, dibantah keluarga bukanlah pelaku perampokan Bank CIMB.

Demikian juga bagi Mereka yang mengalami salah tangkap juga mengalami derita saat kembali ke masyarakat. Korban mengalami pengucilan, dicurigai sampai kehilangan pekerjaan. Sementara itu mereka tidak mendapatkan proses rehabilitasi nama atau kompensasi

Kampanye war on terror juga menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat. Yakni timbulnya keretakan sosial di tengah-tengah masyarakat. Muncul sikap saling curiga, pengucilan bahkan pengusiran kepada orang-orang yang rajin ibadah dan aktif dalam keislaman. Apalagi kepada kelompok Islam yang kritis terhadap pemerintah, kecurigaan dan ketakutan itu bertambah lagi. Ada kecurigaan kampanye war on terror ini juga untuk membungkam kelompok Islam yang vokal dan kritis terhadap pemerintah.  Apalagi sekarang wacana terorisme sudah masuk ke isu ‘penegakkan syariat Islam’. Sepertinya hendak dibangun opini bahwa kelompok yang berjuang menegakkan syariat Islam adalah teroris atau link-nya teroris. Alih-alih menciptakan ketentraman, kampanye war on terror malah menciptakan keresahan sosial.

Begitu juga dengan beberapa media massa
Ada sebuah stasiun televisi yang memberitakan kasus Terorisme dengan serampangan, asal liput dan tidak memperhatikan fakta samasekali. Akhirnya yang terjadi adalah reality show. Atau memang sengaja dibayar untuk melakukan seperti itu???

Bila terorisme membunuh orang yang dianggap lawan karena alasan ideologi yang diyakininya, operasi antiteror di seluruh dunia yang digerakkan Amerika Serikat juga membunuh orang dengan alasan memerangi terorisme. Di antara korban yang berjatuhan dari dua serangan tersebut ada juga sebenarnya warga tidak berdosa. Seperti kata pepatah, dua gajah bertikai, pelanduk mati di tengah-tengah. Jadi, kalau begitu sebenarnya perlu dipikirkan lagi operasi war on terror itu mudlarat atau maslahat bagi masyarakat?

Saatnya kita kembali pada agama kita agama Islam, agama yang akan membangkitkan kita dari keterpurukan, agama yang akan membasmi Teroris sebenarnya, yaitu Amerika, Israel dan antek-anteknya.
Hanya dengan Syariat dan Khilafah kita akan Berjaya. Allahu Akbar.

disadur dari mediaislam.net

Selasa, 26 Oktober 2010

Ismail Yusanto: Indonesia Butuh Perubahan yang Mendasar



Genap setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, masyarakat menumpahkan rasa kekecewaannya. Berbagai elemen masyarakat turun ke jalan menuntut SBY-Boed melepaskan jabatannya. Para pengamat menyatakan pemerintahan SBY-Boed gagal. Benarkah gagal? Bukankah pemerintah menyatakan telah berhasil menurunkan angka kemiskinan dan pengangguran serta menaikan GNP? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas wartawan mediaumat.com mewawancarai Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ust Muhammad Ismail Yusanto. Berikut petikannya.

Presiden SBY menyatakan angka kemiskinan dan pengangguran menurun dan Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP) meningkat. Tanggapan Anda?
Ya, bisa saja SBY mengklaim begitu tapi kan itu hanya didasarkan pada data statistik yang publik juga tidak tahu diperoleh dari mana, ukurannya apa, ketika dikatakan turun turunnya dari mana, turun dari angka berapa, apakah penurunannya itu menggunakan tolak ukur yang sama atau tidak.
Jadi sebenarnya klaim itu bisa dilakukan oleh siapa pun juga bukan hanya SBY.  Tetapi secara faktual, terlepas turun atau tidak, kemiskinan itu masih sama saja di sekitar kita. Mudah terlihat di depan kiri, kanan, dan belakang kita. Artinya, klaim kemiskinan itu turun tidak ada makna apa-apa ketika fakta itu berbicara lebih nyata bahwa rakyat itu memang menderita karena berbagai kesulitan yang mereka hadapi.
Seakan seperti tidak ada negara?
Kalau kita percaya bahwa kita punya negara dengan pemerintahan SBY itu diadakan dengan sejumlah tujuan yakni menjaga: harta, kehormatan, akidah, keamanan, akal, negara. Maka ternyata negara ini bermasalah.
Untuk akidah misalnya. Jika negara tidak berusaha keras untuk menjaga akidah masyarakatnya maka akidah masyarakat akan tergerus. Namun kita lihat ternyata negara kita ini alih-alih menjaga akidah umat malah meggerus akidah umat. Di tambah lagi, adanya elemen-elemen yang merusak akidah umat seperti Ahmadiyah, kelompok liberal, dan kelompok sesat lainnya juga dibiarkan oleh pemerintah.
Negara menjaga akal umat dengan proses pendidikan tetapi pendidikan yang ada sekarang ini justru merusak akal umat karena pendidikannya malah membentuk kepribadian yang sekular. Di tambah lagi dengan beredarnya minuman keras, narkoba itu menunjukkan perlindungan terhadap akal itu tidak jalan.
Dengan tidak adanya perlindungan terhadap keamanan oleh negara orang sangat mudah terancam baik hartanya, nyawanya, kehormatannya. Lihat saja itu kriminalisasi sangat tinggi, bukan hanya pembunuhan, yang marak sekarang ini  malah sudah sampai tingkat yang mengerikan yakni mutilasi. Juga perlindungan terhadap negara pun lemah. Intervensi asing, melalui laut, udara, perundang-undangan.
Berarti SBY gagal mengelola negara?
Saya sudah sering kali menyatakan bahwa negara ini bukan saja gagal tetapi juga sesat. Sesat ini dalam terminologi yang  ada dalam Al-Qur’an (Surat Al-Ahzab Ayat 36, red.) di situ ada ayat yang menyatakan  barangsiapa yang maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia sungguh telah sesat dengan kesesatan yang nyata.
Nah  maksiat itu meninggalkan yang wajib menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang wajib menghalalkan yang haram. Itu sesat dan negara yang sesat,  orang yang sesat itu  pasti gagal , karena tidak ada kesesatan yang berhasil, kalaulah berhasil, maka keberhasilan itu adalah semu. Kegagalannya mengandung unsur kegagalan yang sangat besar. Jadi kalau ditanya apa faktor gagalnya, ya.. kemaksiatan itu/kesesatan itu jadi faktor utama, yakni ketika pemimpin itu mengatur negara ini tidak berdasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Lantas permasalahannya pemerintah tidak menganggap maksiat itu sebagai maksiat, itu bagaimana?
Ini terkait dengan sudut pandang. Sudut pandang apa yang digunakan. Seperti pelacur dianggap sebagai pekerja seks komersial, jadi menurut sudut pandang sekular mereka itu bekerja. Sementara itukan sebenarnya pelacuran. Satu hal yang sama ternyata bisa dinilai secara berbeda, karena sudut pandangnya berbeda.
Jadi selama menggunakan sudut pandang sekular tentu kemudian seolah-olah tidak ada masalah tapi kan faktanya ada masalah kemiskinan, kerusakan moral, kriminalisme terus meningkat, ada ketidakadilan, itu fakta.
Fakta itu akan bisa dijelaskan bila menggunakan sudut pandang yang berbeda, bukan sudut pandang sekular lagi. Jadi kalau kita melihat dari sudut pandang sekular terus, kita tidak akan menemukan jawaban atas semua fakta itu.  Paling-paling hanya bisa mengatakan, “oh karena aturan tidak ditegakkan” , “oh karena pemimpinnya kurang tegas”, hanya itu-itu saja.
Tapi kalau dari sudut pandang yang saya sebut, jadi ketahuan ini terjadi karena kemaksiatan atau pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan dari Sang Pencipta. Dari sudut pandang ini kita menjadi tahu, “oh iya betul, ini melanggar, itu melanggar”.
Mengapa harus pakai aturan dari Sang Pencipta?
Kan tadi sudah disampaikan kita ini bernegara karena mempunyai tujuan. Tujuan tersebut hanya akan bisa dicapai bila kita mengatur negara ini dengan cara yang benar. Cara yang benar itu berarti menggunakan aturan yang benar. Nah aturan yang benar itu yang bagaimana? Itu kan yang menjadi masalahnya? Aturan yang benar tentu saja aturan yang datang dari Sang Maha Benar, itulah Allah SWT.
Orang kan ingin adil, aturannya kan harus adil. Jadi sebelum pemimpinnya adil, aturan yang akan diterapkannya pun harus aturan yang adil. Sebab tidak ada gunanya kalau pemimpinnya berusaha adil tetapi aturannya sendiri sudah tidak adil.
Bagaimana kita bisa mendapatkan suatu masyarakat yang adil kalau sistemnya atau aturannya sendiri sudah tidak adil. Nah aturan yang adil itu adalah aturan yang datang dari Allah SWT Yang Maha Baik, Maha Tahu, dan Maha Adil.
Jadi intinya telah terjadi kegagalan yang sistemik dan sangat mendasar pada negara ini. Oleh karena itu, bila kita menginginkan sebuah perbaikan harus ada perubahan. Perubahan itu ya perubahan yang mendasar, yakni perubahan rezim dan perubahan sistem. Jadi tidak hanya cukup perubahan rezim saja.
Kalau kita lihat dari tuntutan-tuntutan yang adakan hanya turunkan SBY dan Boediono. Tetapi setelah turun, dan bolak-balik diganti pun, pastilah sama saja bila tidak terjadi perubahan yang mendasar pada sistemnya.
Jadi perubahan baru akan terjadi ketika ada perubahan dari sistem yang sesat ini kepada sistem yang diturunkan oleh Allah SWT yaitu Khilafah Islam yang menerapkan seluruh aturan dari -Nya Yang Maha Tahu, Maha Baik dan Maha Adil.

Minggu, 24 Oktober 2010

KAPITALISME.... SESAT DAN MENYESATKAN SERTA GAGAL



Bila selama ini masyarakat sering mendengar adanya aliran sesat, maka kemarin (19/10) siang para peserta talkshow Halqah Islam dan Peradaban (HIP) ke-23 mendengar pernyataan jubir HTI yang menyatakan bahwa Indonesia yang berdasarkan kepada asas kapitalisme-sekuler ini adalah negara sesat.

Ust Muhammad Ismail Yusanto ketika dimintai pendapatnya tentang setahun pemerintahan SBY-Boediono atau enam tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan demikian. “Negara kita ini bukan hanya gagal tetapi juga sesat!” ujarnya di hadapan 250 peserta talkshow yang bertema Quo Vadis Pemerintahan Neolib dan Masa Depan Umat: Refleksi 6 Tahun Pemerintahan SBY itu.

Alasannya, ujar jurubicara HTI tersebut, dalam Al-Qur’an Surat (QS) Al-Ahzab Ayat 36 dinyatakan barang siapa yang maksiat atau durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata. “Maksiat itu apa? Maksiat itu ketika seseorang itu meninggalkan yang wajib dan melakukan yang haram!” paparnya.

Ia pun mengajak peserta untuk bersama-sama berfikir melihat segala sesuatunya dari sudut pandang tersebut. Hasilnya ternyata sistem yang berlaku di negara ini justru banyak sekali meninggalkan yang wajib dan banyak sekali melakukan yang haram dengan berbagai
Undang-Undang yang dibuatnya.

Riba (salah satunya: bunga bank) jelas-jelas haram tapi justru dilakukan bahkan dipraktikan dengan perlindungan Undang-Undang. Kalau ada tempat yang paling keren di Sudirman-Thamrin, Jakarta, itu adalah gedung-gedung perbankan ribawi.

Pemerintah tidak pernah mengatakan itu gedung tempat maksiat, padahal itu sebenarnya tempat maksiat. Padahal tidak ada kemaksiatan yang paling keras diperangi oleh Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW melebihi riba, sampai-sampai di Al-Qur’an di Surat Al-Baqarah Ayat 279 dikatakan bila engkau tidak meninggalkan sisa riba itu maka Allah dan Rasul itu akan memerangi kalian semua.

“Jadi keras sekali, tapi sekarang dianggap halal dan mendapatkan tempat terhormat dengan perlindungam Undang-Undang perbankan segala!” tegasnya.

Menegakkan syariah Islam secara totalitas itu wajib tetapi diharamkan oleh pemerintah. Dalam Al-Qur’an disebutkan kutiba ‘alaykum as shiyam (diwajibkan atas kalian berpuasa, QS Al-Baqarah Ayat 183, red), kutiba ‘alaykum al qishash (diwajibkan atas kalian qishah [hukuman setimpal: nyawa dibayar nyawa, dll] QS Al-Baqarah Ayat 178, red.), kutiba ‘alaykum al qital (diwajibkan atas kalian berperang/jihad, QS Al-baqarah Ayat 216, red.). Semuanya dari Al-Qur’an dan Surat yang sama semuanya pakai
kutiba (telah diwajibkan).

Nah yang dilaksanakan hanya puasa saja tetapi qishah tidak. Bahkan ketika ada yang menyerukan untuk jihad (qital) orang bilang teroris. Jadi justru negara ini memusuhi pelaksanaan syariah yang nyata-nyata telah diwajibkan seperti yang disebut di atas.



Bila individu yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya disebut sesat. Kalau individu sesat itu berkumpul di dalam sebuah kelompok yang juga bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya maka kelompok itu juga disebut kelompok sesat. Kalau keluarga, disebut keluarga sesat. Nah kalau negara? Negara sesat! Pasti itu. Dan negara sesat itu pasti gagal. Tidak mungkin berhasil.

Kalau negara itu berhasil, katakanlah misalnya, orang sering menunjuk: lihat itu Eropa, Amerika, Singapura, Australia, berhasil! Tetapi itu sesungguhnya keberhasilan yang semu. Yang mereka tunjuk itukan biasanya adalah keberhasilan dari sisi fisik. Misalnya, pengaturan kota, kebersihan, ketertiban, hanya itu-itu saja.

Tetapi di balik itu, mereka menghadapi masalah-masalah yang lebih substansial. Apa itu? Yaitu menyangkut manusianya. Karena kota itu untuk manusia, jalan dibuat itu untuk manusia, ketertiban itu untuk manusia. Tapi bagaimana jadinya mereka hidup dilingkungan yang bersih, rapih, tetapi manusianya rusak.

Sekali waktu silakan jalan-jalan ke Sidney, Australia, ketika acara Festival Gay. Di kota yang tampak rapih dan bersih itu ada parade yang semua pesertanya adalah gay, “seperti jeruk makan jeruk,” ujarnya ketika menceritakan pengalamannya ketika ke Sidney dan disambut tawa peserta talkshow yang digelar sebulan sekali itu. Itukan salah satu contoh kerusakan yang substansial.



“Kalau kita berada di negara yang sesat seperti ini maka sangat mungkin umat kita pun akan terbawa sesat,” Ismail memperingatkan. Kecuali mereka yang terus menerus mempertahankan diri, mempertahankan akidahnya mempertahankan ketakwaannya kepada Allah SWT. dan itu tidak mudah.

Yang menjaga diri dari riba kemungkinan kena debu riba. Yang menjaga diri dari kesucian pandangan mata dia akan tercemari oleh pornografi dan pornoaksi yang merajalela. Yang ingin menegakan al haq (kebenaran) justru ditangkap, dituduh teroris seperti halnya Ust Abu Bakar Baasyir.

Jadi kaum Muslim yang hidup dalam sistem kapitalisme ini ibaratnya berada di dalam kubangan lumpur kotoran, hanya orang yang terus menerus membersihkan diri saja yang akan selamat. Kalau diam saja atau mengikut saja apa kata pemerintah yang menghalalkan keharaman dalam Al-Qur’an dan mengharamkan kewajiban dari Allah SWT, dijamin kotor.

Maka solusinya agar tidak tersesat ya kembali ke syariah dan khilafah Islam. Agar penduduk ini tidak tersesat. Di samping itu, sistem itu yang belum pernah diterapkan di negeri ini pasca hengkangnya penjajah Belanda dan Jepang. Sedangkan sistem lainnya sudah pernah dicoba dan terbukti gagal memanusiakan manusia yang misi hidupnya di planet bumi ini untuk menjalankan perintah Pencipta manusia dan menjauhi larangan-Nya.

Soekarno menjalankan roda bernegaranya dengan menggunakan sistem sosialisme, gagal. Soeharto pun gagal dengan sistem kapitalismenya. Begitu juga SBY dengan neolibnya juga gagal. Lantas mengapa tidak mau menegakkan syariah dan khilafah? (mediaumat.com, 21/10/2010)



ISLAM IDEOLOGI HERBAL ASLI 100%

Islamlah Ideologi fitrah manusia, karena Islam adalah ciptaan Allh SWT, yang menciptakan manusia sehingga Dia mengetahui berbagai macam persoalan hidup manusia, dan memberikan solusinya pada satu Ideologi yaitu Islam. Islam akan tegak jika Khilafah tegak, oleh karena itu Negara Khilafah adalah suatu keniscayaan bagi umat Islam.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Janda Dari Seorang Muallaf Korea Butuh Bantuan Pengobatan dan Pendidikan Anak Yatim




Elly Mariati, mendapat ujian berat dari Allah SWT. Ketika sedang dirundung penyakit kronis yang butuh biaya besar, ia ditinggal mati oleh suaminya, Muhammad Ismail Shaleh (Chang You Young), seorang muallaf berkebangsaan Korea. Terbaring di rumah sakit, ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencari biaya pengobatan dan pendidikan dua orang anaknya yang kini berstatus yatim. Uluran tangan dermawan dan kaum muslimin sangat dibutuhkan.

KANKER usus yang Elly Mariati, 44 tahun derita datangnya tiba-tiba, awalnya ia tidak bisa buang air besar selama delapan hari. Pada saat diperiksa di rumah sakit, dokter mengambil tindakan cepat setelah melakukan berbagai upaya agar Elly bisa BAB (buang air besar), tapi tetap saja tidak bisa BAB. Maka operasi pun dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya.

Setelah operasi dilakukan, ternyata Elly menderita kanker stadium 4 yang tumbuh di dalam usus besar. Maka sebagai alternatif Elly harus BAB lewat perut yang dilubangi dan pakai kantong. Dua bulan kemudian dokter yang menangani menyatakan kanker sudah menyebar ke hati sesuai hasil laboratorium. Akhirnya dilakukan operasi yang kedua, usus dipotong dan bagian kanker yang ada di hati pun dipotong. Walaupun baru dua kali operasi, tapi sudah cukup membuat suami Elly kelabakan soal biayanya. Setelah kejadian itu, Elly mulai lemah. Betul-betul lemah lahir dan batin. Ia sudah tidak bisa sepenuhnya mengurus suami dan 2 orang anaknya yang masih belasan tahun. Elly dan suami serta anak-anaknya terpaksa hidup pas-pasan.

Penderitaan Elly Mariati bertambah lengkap, ketika suaminya yang amat ia cintai yang selalu diharapkan saat ia menderita sakit selalu mendampingi dan membiayainya bernama Muhammad Ismail Shaleh (Chang You Young), seorang muallaf berkebangsaan Korea, yang meninggal dunia kena serangan jantung. Beban yang ia pikul teramat berat, ia harus memikirkan kedua anaknya, Muhammad Fikri (17 tahun) dan Dinda Syifa (15 tahun) yang masih sekolah butuh biaya. Dirinya pun butuh biaya untuk berobat. Kontrakan rumahnya sudah habis dan harus segera ia bayar, tapi karena ia tidak punya uang terpaksa ia keluar dan numpang di rumah saudaranya. Padahal saudara kandungnya itu juga bukan seorang yang kaya, melainkan keluarga ekonomi pas-pasan.
....Penderitaan Elly Mariati bertambah lengkap, ketika suaminya yang selalu mendampingi, Muhammad Ismail Shaleh (Chang You Young), seorang muallaf berkebangsaan Korea, yang meninggal dunia kena serangan jantung. Beban yang ia pikul teramat berat, ia harus memikirkan kedua anaknya....
Kini Elly Mariati benar-benar tidak berdaya apa-apa, penyakit kanker yang ganas itu semakin hari semakin menyebar ke organ tubuhnya yang lain. Ia hanya bisa tergeletak dan berdoa di rumah sakit Dharmais yang hanya ditemani oleh ibu kandungnya yang sudah rentah berumur 73 tahun. Ia sudah tidak punya apa-apalagi, tidak punya biaya, ia hanya mengharap uluran tangan orang-orang yang berhati mulia yang mau menyisihkan hartanya.

Tapi memang penyakit yang diderita Elly adalah penyakit mahal, ia masih punya hutang di rumah sakit Dharmais lebih dari 10 juta itu pun sudah pakai SKTM. Selanjutnya, selesai operasi yang ketiga ini Elly harus menjalani chemotherapy yang pertama, lagi-lagi membutuhkan biaya yang pasti tidak sedikit, sekali lagi puji syukur kepada Allah, rumah sakit Dharmais mengijinkan ia menjalani rawat inap dan chemotherapywalaupun Elly masih punya hutang. Semoga seluruh pimpinan dan staf rumah sakit Dharmais mendapat lindungan dan berkah dari Allah.

Penderitaan Elly Mariati bertambah lengkap, ketika suaminya yang amat ia cintai yang selalu diharapkan saat ia menderita sakit selalu mendampingi dan membiayainya bernama Muhammad Ismail Shaleh (Chang You Young), seorang muallaf berkebangsaan Korea, yang meninggal dunia kena serangan jantung. Beban yang ia pikul teramat berat, ia harus memikirkan kedua anaknya, Muhammad Fikri (17 tahun) dan Dinda Syifa (15 tahun) yang masih sekolah butuh biaya. Dirinya pun butuh biaya untuk berobat. Kontrakan rumahnya sudah habis dan harus segera ia bayar, tapi karena ia tidak punya uang terpaksa ia keluar dan numpang di rumah saudaranya. Padahal saudara kandungnya itu juga bukan seorang yang kaya, melainkan keluarga ekonomi pas-pasan.
....Penderitaan Elly Mariati bertambah lengkap, ketika suaminya yang selalu mendampingi, Muhammad Ismail Shaleh (Chang You Young), seorang muallaf berkebangsaan Korea, yang meninggal dunia kena serangan jantung. Beban yang ia pikul teramat berat, ia harus memikirkan kedua anaknya....
Kini Elly Mariati benar-benar tidak berdaya apa-apa, penyakit kanker yang ganas itu semakin hari semakin menyebar ke organ tubuhnya yang lain. Ia hanya bisa tergeletak dan berdoa di rumah sakit Dharmais yang hanya ditemani oleh ibu kandungnya yang sudah rentah berumur 73 tahun. Ia sudah tidak punya apa-apalagi, tidak punya biaya, ia hanya mengharap uluran tangan orang-orang yang berhati mulia yang mau menyisihkan hartanya.

Tapi memang penyakit yang diderita Elly adalah penyakit mahal, ia masih punya hutang di rumah sakit Dharmais lebih dari 10 juta itu pun sudah pakai SKTM. Selanjutnya, selesai operasi yang ketiga ini Elly harus menjalani chemotherapy yang pertama, lagi-lagi membutuhkan biaya yang pasti tidak sedikit, sekali lagi puji syukur kepada Allah, rumah sakit Dharmais mengijinkan ia menjalani rawat inap dan chemotherapywalaupun Elly masih punya hutang. Semoga seluruh pimpinan dan staf rumah sakit Dharmais mendapat lindungan dan berkah dari Allah.

(Evy, kakaknya Elly Mariati)
Catatan 
1. Redaksi kami memastikan bahwa berita ini asli dari voa-islam.com yang sudah sudah memastikan keshahihan berita tersebut kepada pihak yang bersangkutan.
2. Pembaca yang berkenan membantu dan memerlukan informasi lebih lanjut bisa menghubungi redaksi voa-islam.com (0817.702050) atau kepada keluarganya ke nomor HP: 087877197699 & 08174858234.

Berita Terkait Klik di sini

Senin, 18 Oktober 2010

BANJIR WASIOR… ANTARA KESERAKAHAN KAPITALISME DAN PEMERINTAH YANG “ EMANG GUE PIKIRIN”



Bencana banjir bandang di Wasior adalah berita yang sanggup menghilangkan untuk sementara hingar bingar berita kebohongan mitos Terorisme.
Kota Wasior Papua, hancur akibat terjangan air bah, sekitar 150 orang tewas, ratusan lainnya hilang dan sebagian besar penduduk luka-luka.

LAGU LAMA
Seperti biasa para pejabat tidak langsung merespon bencana alam itu dengan terjun memberi bantuan, tetapi mereka malah berdebat saling menyalahkan, saling tuding, seperti anak SD yang memecahkan kaca jendela kelasnya.
Presiden pun tak ketinggalan leletnya, si doi mengatakan akan mendengar dulu penjelasan dari menkokesra, yang juga belum memberikan penjelasan, karena menyibukan diri dengan kesibukan yang dibuatnya. Padahal si Doi sudah mendapat penjelasan dari ketua BNPB yaitu Syamsul Maarif. Akibatnya kunjungan ke tempat bencana ditunda.

PEMBALAKAN LIAR
Banjir wasior disebabkan oleh pembalakan liar yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Kapitalisme Global dengan memanfaatkan penduduk sekitar. Menurut Yusuf Kalla, pembalakan liar itulah penyebab utama Banjir Wasior, hal ini juga dibenarkan oleh WALHI.
Pembalakan liar yang dilakukan PT. WMT dan PT. DMP sejak tahun 2001 telah memakan 80 % hutan Wasior yang menyebabkan struktur tanah sudah tidak dapat menahan air hujan maka terjadilah banjir ( Walhi ). Anehnya pembalakan liar itu atas ijin Pemerintah.

KAPITALISME SISTEM SERAKAH PERUSAK LINGKUNGAN
Menurut Robert Fezu seorang penulis pecinta lingkungan menulis dalam bukunya yang berjudul “The Monster Of Capital”, bahwa belum pernah bumi ini serusak sekarang sejak Kapitalisme memimpin dunia yang baru sekitar 200 tahun, bagaimana kalau Kapitalisme memimpin dunia 1000 tahun ?.
Sekarang hampir semua kebijakan para Kapitalis seperti Amerika Serikat tidak pernah memperhatikan lingkungan, lihat saja Freeport, mereka menggali gunung, hutan, menjarah emas Papua, lalu ketika ada bencana yang kena ya orang Papua. Jadi orang Papua hanya mendapatkan ampas dan kesengsaraan saja, sementara kekayaan mereka dijarah dan dinikmati para Penjajah Kapitalisme.

HANYA ISLAM YANG MAMPU MENEGAKAN KEADILAN KEPADA SELURUH DUNIA
Kapitalisme maju karena menjajah orang lain, memiskinkan orang lain dan memperbudak orang lain. Kapitalisme adalah sistem turunan dari penjajahan Eropa yang sudah berlangsung sejak jaman Renaisans.
Berbeda dengan Islam, ketika Islam memimpin dunia, sistem ini akan mengolah sumber daya alam, membagikan secara adil kepada masyarakat, memberikan kekayaan alam kepada daerah yang miskin kekayaan alamnya, sehingga daerah itu menikmati apa yang dinikmati oleh daerah yang kaya akan kekayaan alam.
Sebagai contoh adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau berhasil menjadikan Afrika, sebuah benua tandus menjadi benua yang kaya raya pada masanya, begitu juga dengan Khalifah-khalifah lainnya.

JIHAD UNTUK MENAKLUKAN SUATU NEGARA DAN MEMAKMURKANNYA DENGAN ISLAM
Itulah uniknya Islam, Jihad yang dilakukan tidak hanya untuk menyebarkan dakwah Islam tetapi untuk memakmurkan suatu negeri dengan keadilan Islam. Memang ada tahapannya, yaitu penguasa itu diminta masuk Islam, kalau gak mau dia diminta menyerahkan kekuasaannya kepada Islam, dan kalau gak mau baru dilancarkan perang, setelah negeri itu takluk baru sebarkan keadilan Islam kepada penduduknya, itu terjadi pada saat penaklukan Spanyol, Persia, Byzantium, Balkan, dan sebagainya
Biasanya perang hanya menyebarkan kebencian, kesengsaraan, perbudakan dan penjajahan, namun ketika Islam mengalahkan penguasa Negeri yang serakah, dengan perang, selanjutnya Islam akan menyebarkan Kemakmurannya ke seluruh negeri itu.

Itulah betapa mulianya perang suci dalam Islam yang disebut Jihad.
Hanya Khilafah saja yang boleh melakukan Jihad ofensif ke negara-negara zalim, sehingga perlu bagi kita untuk mendirikan negara Khilafah yang akan menjadikan Islam memimpin dunia.

BANGGALAH DENGAN ISLAM, DEMIKIAN KATA MANTAN RAPPER AMERIKA, LOON ( AMIR JUNAID MUHADDITH )